Pesta demokrasi telah dimulai. Masing-masing parpol silih berganti mengadakan kampanye. Jalan-jalan mulai ramai oleh pawai simpatisan parpol. Bermacam-macam cara dilakukan para parpol dalam menarik perhatian rakyat. Bagi parpol besar yang mempunyai dana yang besar pula biasanya tak segan untuk menggelar acara hiburan atau pembagian hadiah demi mendapatkan dukungan dari rakyat. Terkesan berfoya hura memang tapi setidaknya sekali ini saja menunjukan perhatian kepada rakyatnya, karena setelah itu kita tahu sendiri lah. (lagi…)

Tersenyum. Ya itu lah yang tergambar di muka saya setelah memposting tulisan sebelumnya di blog ini, intelektualitas vs moralitas. Ada banyak kontroversi yang terjadi dan ini sesuai harapan saya. Sebelum dan sesudah tulisan itu saya posting sering terjadi perdebatan saya dengan teman-teman. Inilah asyiknya, berdebat yang merupakan kesukaan saya. Tak perduli siapa yang akhirnya menang, kalah, atau seri. Bagi saya ada kepuasan tersendiri untuk itu. Yang penting adalah kita harus bisa menghargai perbedaan yang ada disekitar kita. (lagi…)

Ada suatu ucapan seorang dosen saya yang menjadi pemikiran saya. ” setelah keluar dari kampus ini setidaknya kalian menjadi setengah manusia” kata dosen saya itu. Apa sebenarnya maksud dari ucapan dosen saya ini? setelah saya ikuti pembicaraan beliau, saya dapat memahami apa yang beliau katakan tersebut. Inti dari ucapan beliau itu adalah agar kita yang mengaku sebagai manusia ini sadar apakah memang benar telah menjadi manusia. Ada banyak sekali yang mengaku manusia tapi kelakuannya tak mencerminkan seperti itu. Mau bukti? tengoklah ke sekitar kita. Ada perkelahian, kerusuhan, hujat menghujat, sikut menyikut dan saling menjatuhkan layaknya hewan.Tapi kita mempunyai akal dan hewan tidak, berarti kita tetap manusia dong. Apa bedanya jika akal tak berfungsi. Akal hanya sebagai pelengkap agar tak dibilang cacat tapi tak pernah digunakan, hasilnya tetap nihil. (lagi…)

Resah rasanya hati jika melihat begitu banyak masalah di negeri yang elok ini. Sebenarnya hal ini sudah beberapa kali menjadi bahan tulisan dan diskusi saya bersama teman-teman. Tapi seakan sama dengan permasalahan yang tak pernah habis, tak pernah jenuh saya mengangkat tema ini. Terkesan umum memang karena begitu banyak permasalahan yang menghampiri bangsa kita, tapi menurut saya semua itu saling berkaitan, begitu kompleks dan “cukup memusingkan”. Misalnya saja di awal tahun 2009 ini kita dihadapkan dengan persiapan untuk pemilu yang disebut sebagai pesta demokrasi (semoga saja begitu). Belum lagi pemilu dilaksanakan suasana sudah memanas. Bahkan yang sempat menjadi pembicaraan hangat adalah ketika 2 calon presiden terkuat saling berbalas sindiran layaknya baturai pantun. Para pengamat politik pun tak mau ketinggalan mengeluarkan argumen mereka. Sementara itu rakyat hanya bisa menonton pagelaran sandiwara kehidupan ini. Dan tak ayal lagi mereka menjadi korban kaum intelek dengan segala janji gombalnya. (lagi…)

Rahmat hanya bisa tertegun. Terasa ada yang mengganjal di kerongkongannya. Pikirannya kosong, tubuhnya kaku dan tak terasa terhenti aliran darahnya untuk beberapa saat. Semua itu terjadi ketika dia membaca sebuah sms yang dikirimkan Yuli untuknya. “sebentar lagi aku akan menikah. Nanti kamu datang ya. Teman-teman yang lain juga sudah aku undang. Kedatangan kamu sebagai sahabat ku sangat aku harapkan.” Begitulah isi sms itu. Sebuah rangkaian kata yang terasa seperti pedang bagi Rahmat.

“ plak..” sebuah pukulan pelan di bahu menyadarkan Rahmat.” Sedang melamun apa kau mat??” tanya Arief yang baru saja datang.

“ ah..tidak, tidak melamun apa-apa. Aku cuma menghitung jumlah dosa aku” elak Rahmat seraya bergurau. Arief cuma tersenyum mendengarnya. (lagi…)

Terbang pikiran ku melayang

Tenggelam di lautan sunyi

Berdindingkan kegelapan

Ku tersesat…

Ku terus berjalan

Jalani kehidupan yang tak bertuan

Acuhkan manusia dalam pembodohan

Pemuja batu dan kekuasaan

Langkah ku terhenti

Seorang nenek mengais sisa nasi

Senyum wajahnya seakan berkata

Aku masih hidup

Hari ini begitu panas. Terik sinar matahari yang begitu menyengat menyambut kedatangan Rahmat di kota Banjarmasin. Bersama ibunda tercinta, Rahmat berencana mendaftar masuk sebuah perguruan tinggi di Banjarmasin. Berangkat pagi-pagi dari kota Amuntai, Rahmat bersama sang ibu tiba di Banjarmasin dengan menaiki mobil taksi antar kota. Setelah tiba di terminal Pal 6 Banjarmasin, rahmat dan ibunya disambut layaknya seorang artis yang dikejar-kejar wartawan. Apa gerangan yang terjadi?, pikir mereka berdua. Ternyata segerombolan orang yang menyambut mereka menawarkan jasa ojek dan taksi dalam kota. Dengan tangkas tangan ibu meraih dan menarik tangan Rahmat menuju sebuah mobil taksi yang masih kosong. Tak terasa baju Rahmat basah kuyup diguyur peluh akibat udara yang begitu panas.

“ Kita akan kemana bu??” tanya Rahmat.

“ Kita akan ke Kayutangi, disana ada pendaftaran mahasiswa UNLAM dan juga…” (lagi…)

010920080031Pagi itu tak seperti biasanya kami sudah berkumpul. Tampak beberapa diantara kami membawa tas yang cukup besar, seperti akan melakukan perjalanan jauh. Yup, pagi itu memang kami semua berencana untuk pergi jalan-jalan ke Pantai Takisung. Cuaca yang cukup cerah membuat kami optimis tak takut kehujanan di perjalanan. Sekitar pukul 9 pagi kami meluncur dari Banjarmasin menuju Pantai Batakan yang berada di wilayah Pelaihari. Dengan menggunakan beberapa motor kami berangkat secara bersamaan. Tak seperti perjalanan sebelumnya ketika kami ke pantai Batakan, pada perjalanan ini kami hampir tak menemui hambatan. (lagi…)

Ku tatap dunia

Terasa perih luka di dada

Pertempuran manusia

Yang buta indahnya perbedaan

Oh indahnya…

Ku bisa engkau pun bisa

Melupakan kebencian yang ada

Bersama kita terluka

Bersama kita bisa tertawa

Dan tertawa…

Ayo bangun dunia di dalam perbedaan

Kita satu tetap kuat kita bersinar

Harus percaya tak ada yang sempurna

Dan dunia kembali tertawa… (lagi…)

indah-wal-ae1

Ada satu fenomena yang membuat saya terkejut sekali ketika mendengar berita di televisi yang menyatakan bahwa ribuan hektar hutan di wilayah provinsi Kalimantan Selatan habis dibabat oknum tak bertanggung jawab. Permasalahan inilah yang diduga menjadi penyebab bencana banjir yang begitu meluas hampir di seluruh wilayah provinsi Kal-sel.

Sejauh pantauan saya selama melakukan PKL beberapa waktu yang lalu memang banyak terjadi penebangan ilegal yang dilakukan oleh perambah hutan baik itu penduduk setempat maupun pengusaha kayu yang “nakal”. Seperti ketika PKL ke Muara Hunge (Barabai), Loksado (Kandangan), dan Batulicin, saya banyak menemukan terjadinya penebangan hutan yang diduga tanpa izin ini. Kalau penebangan yang dilakukan masyarakat suku dayak sebenarnya lebih ditujukan sebagai membuka lahan untuk pertanian mereka. Itupun tak sembarangan mereka lakukan tetapi ada aturan yang masih mereka taati demi kelestarian alam. Lain halnya jika pengusaha kaya yang masuk hutan. Mereka potong habis kayu-kayu seperti jenis Ulin untuk kepentingan bisnis, padahal Ulin merupakan salah satu kayu yang dilindungi dan tak boleh sembarangan menebangnya. (lagi…)

Awan gelap tak kunjung enyah dari negeri ini

Bumi menjadi saksi rakyat yang terzalimi

Mahasiswa terus teriak reformasi

Melawan penguasa yang tak berbudi

Persatuan kesatuan semakin keropos

Disana sini orang saling adu jotos

Kesejahteraan seakan hanya mitos

Lahirkan tangis di wajah anak yang polos (lagi…)

smookePada minggu ini media ramai membicarakan kontroversi masalah fatwa MUI yang mengharamkan rokok. Ada apa dengan rokok sehingga MUI mengeluarkan fatwa haram? Jujur saja saya termasuk pecandu rokok. Tapi bukan berarti saya termasuk orang mempermasalahkan fatwa ini. Bagi saya ini masalah pribadi masing-masing yang memilih apakah terus mau merokok atau berhenti. Saya sendiri sedang berusaha untuk berhenti untuk merokok. (lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »