Sepulang dari kota Tenggarong, malamnya kami disuguhi tarian adat khas suku dayak kenyah. Tarian pembuka dari mereka dilakukan oleh beberapa orang wanita dewasa yang jumlahnya belasan orang. Melakukan tarian dengan irama yang begitu lambat nan gemulai. Melakukan pergerakan memutari seluruh lamin seraya menghentakan kaki yang beriringan dengan musik yang dibawakan oleh kaum lelaki dayak kenyah.sungguh indah dan khas sekali. Tarian ini berlangsung sekitar 10 menit.
Kemudian kami disuguhi lagi tarian yang dinamakan Tari Persatuan. Tarian ini dibawakan oleh beberapa orang gadis remaja. Sesuai dengan nama tariannya, memang tari ini ditujukan sebagai lambing persatuan masyarakat dayak yang terbagi dalam beberapa etnis atau suku. Dalam tarian ini diceritakan adanya simbol burung enggang yang dipercaya masyarakat dayak sebagai pemersatu mereka. Burung enggang sendiri saat ini mulai mengalami kepunahan di pulau Kalimantan akibat hilangnya habitat mereka. Dibandingkan tarian pembuka tadi, tari persatuan ini dirasakan lebih mempunyai nilai filosofi. Dan tarian itu menjadi tari penutup bagi kami pada malam itu.
Paginya sebelum kami pulang ke Banjarmasin, kami kembali disuguhi sebuah tarian perpisahan sebagai ucapan terima kasih atas kedatangan kami. Tarian ini dibawakan seorang lelaki dewasa dari dayak kenyah. Tarian ini menggambarkan kebahagiaan seorang dayak kenyah atas kedatangan tamunya dan berharap bisa bertemu kembali di lain waktu. Dengan memakai busana khas dayak kenyah dan Mandau serta perisai, lelaki dayak kenyah itu menari dengan lincahnya. Tarian ini melengkapi kepuasan hati kami akan budaya suku dayak kenyah. Akhirnya kami pun harus kembali ke Banjarmasin.
Seperti janji saya kemarin, tulisan ini menceritakan tentang perjalanan saya ke daerah kaltim. Bagi yang ketinggalan cerita sebelumnya bisa membaca
Minggu (07/06/2009) kemarin, saya bersama teman-teman lainnya berangkat ke provinsi Kalimantan Timur, tepatnya ke kota Samarinda. Keberangkatan kami ini sehubungan dengan PKL ke daerah pemukiman warga Dayak Kenyah. Suatu hal yang unik mengingat asal suku dayak kenyah bukan di daerah Samarinda, tetapi di kawasan perbatasan Malaysia dengan Indonesia di Kalimantan bagian utara. Perjalanan ini tentunya menyita waktu yang tak sedikit. Kami harus menjalani perjalanan selama 24 jam penuh jika bertolak dari kota Banjarmasin. Berangkat pada pukul 7 pagi, kami baru tiba pada pukul 7 pagi keesokan harinya. Medan yang ditempuh pun tak semulus yang dikira karena harus melewati pegunungan yang menanjak dan jalan yang rusak. Sangat melelahkan sekali menjalani perjalanan tersebut. Untuk menuju ke kota Samarinda, sebelumnya kami harus menyeberang sungai Mahakam yang begitu luas dengan menggunakan kapal selama 1 jam. Dan ini menjadi pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di kota Samarinda.
Desa Hamayung terletak di kecamatan Daha Utara kabupaten Hulu Sungai Selatan. Perjalanan kami mulai pada hari Jum’at (24/4/2009). Sekitar pukul 4.30 sore mobil taksi bertolak dari Banjarmasin menuju wilayah kabupaten HSS. Kurang lebih ada 8 buah mobil yang kami sewa untuk PKL ini. Seperti biasa, jalanan kota Banjarmasin yang macet pada sore hari menjadi sedikit penghambat kami. Belum lagi saat melalui jalan raya yang disulap menjadi jalan tambang karena truk pengangkut batu bara yang numpang lewat. Memasuki kota Martapura kami disuguhi jajanan kue kelalapon khas Martapura yang dijual orang di pinggiran jalan. Sungguh nikmat rasanya menikmati kue ini dan saya juga kebetulan termasuk fans kue kelalapon. Perjalanan terus berlanjut. Ketika lepas maghrib kami baru memasuki daerah sungkai yang terkenal dengan jalanannya yang berlobang akibat truk batu bara yang berlalu lalang disana. Di pinggir jalan kami menyaksikan kerumunan orang, tampaknya telah terjadi kecelakaan. Hal seperti ini memang sering terjadi akibat rusaknya jalan dan padatnya volume kendaraan. Tak lama kemudian kami makan malam di kawasan Rantau. Setelah puas mengisi perut, perjalanan kami lanjutkan kembali. Baru pada pukul 10.00 kami tiba di desa Hamayung.
Pagi itu tak seperti biasanya kami sudah berkumpul. Tampak beberapa diantara kami membawa tas yang cukup besar, seperti akan melakukan perjalanan jauh. Yup, pagi itu memang kami semua berencana untuk pergi jalan-jalan ke Pantai Takisung. Cuaca yang cukup cerah membuat kami optimis tak takut kehujanan di perjalanan. Sekitar pukul 9 pagi kami meluncur dari Banjarmasin menuju Pantai Batakan yang berada di wilayah Pelaihari. Dengan menggunakan beberapa motor kami berangkat secara bersamaan. Tak seperti perjalanan sebelumnya ketika kami ke pantai Batakan, pada perjalanan ini kami hampir tak menemui hambatan. 
wilayah kabupaten HST. Ada belasan mobil taksi yang membawa kami karena memang rombongan kami ada banyak sekali, 200 orang lebih. Turut serta pula 3 dosen kami sebagai pembimbing. Di perjalanan, di dalam mobil kami tak habis-habisnya tertawa ceria, bernyanyi, bahkan foto-foto. Kami memang segerombolan orang-orang narsis.(hehe..)
1 orang jumlahnya. Rencananya kami mau berangkat menuju pantai Batakan, sebuah pantai yang terletak di wilayah Pelaihari. Sekitar pukul 8 pagi kami berangkat dari Banjarmasin dengan mengenderai motor. Memasuki wilayah pelaihari kami mendapat sedikit hambatan ketika salah satu motor teman kami mogok di jalan sehingga harus dibawa
ke bengkel dulu. Tak mudah menarik motor yang mogok, membuat perjalanan menjadi berat dan melelahkan. Akhirnya ketika memasuki wilayah kota pelaihari kami memutuskan untuk bersantai ria sebentar di sebuah bukit yang disana dibangun tempat bersantai sambil menikmati pemandang
an perkebunan yang begitu luas. Kawasan perbukitan yang menghijau sungguh menyejukkan mata di saat terik matahari yang mulai menyengat. Ritual foto-foto pun tak lupa dilakukan. 




