Note: lama juga tak meneruskan novel ini. Keterbatasan ide dalam mengembangkan cerita yang sebenarnya merupakan kisah nyata ini menjadi kendala utama. Saran dan kritik dari pembaca sangat saya harapkan. Bagi yang ketinggalan cerita sebelumnya dapat membaca di JPC 1 dan JPC 2. Terima kasih.
Angin pagi itu sangat menyejukan. Sinar matahari yang masih tipis membelai hangat tubuh ini. Pagi itu Rahmat merasakan kembali suasana pagi yang asri di kampung halamannya, Amuntai. Duduk di teras depan sambil menikmati teh hangat, Rahmat asyik memperhatikan orang-orang yang mulai berlalu lalang di jalanan.
“Bagaimana tes kemarin??” tanya ibu mengagetkan Rahmat.
“euh..baik,baik-baik saja bu” jawab Rahmat.
“Apanya yang baik??” tanya ibunya lagi.
“ya tesnya lah..pokoknya Insya Allah lulus. Mohon do’anya ya bu..”.
“ do’a ibu selalu untuk mu nak..” jawab ibu seraya tersenyum. “ sana kamu makan dulu, dah ibu siapkan dari tadi lo makanan kesukaan kamu, pepuyu bakar kan..” Wah asyik..gumam Rahmat. (lagi…)





