Novel atau Cerbung ???


Note: lama juga tak meneruskan novel ini. Keterbatasan ide dalam mengembangkan cerita yang sebenarnya merupakan kisah nyata ini menjadi kendala utama. Saran dan kritik dari pembaca sangat saya harapkan. Bagi yang ketinggalan cerita sebelumnya dapat membaca di JPC 1 dan JPC 2. Terima kasih.

Angin pagi itu sangat menyejukan. Sinar matahari yang masih tipis membelai hangat tubuh ini. Pagi itu Rahmat merasakan kembali suasana pagi yang asri di kampung halamannya, Amuntai. Duduk di teras depan sambil menikmati teh hangat, Rahmat asyik memperhatikan orang-orang yang mulai berlalu lalang di jalanan.
“Bagaimana tes kemarin??” tanya ibu mengagetkan Rahmat.
“euh..baik,baik-baik saja bu” jawab Rahmat.
“Apanya yang baik??” tanya ibunya lagi.
“ya tesnya lah..pokoknya Insya Allah lulus. Mohon do’anya ya bu..”.
“ do’a ibu selalu untuk mu nak..” jawab ibu seraya tersenyum. “ sana kamu makan dulu, dah ibu siapkan dari tadi lo makanan kesukaan kamu, pepuyu bakar kan..” Wah asyik..gumam Rahmat. (lagi…)

Rahmat hanya bisa tertegun. Terasa ada yang mengganjal di kerongkongannya. Pikirannya kosong, tubuhnya kaku dan tak terasa terhenti aliran darahnya untuk beberapa saat. Semua itu terjadi ketika dia membaca sebuah sms yang dikirimkan Yuli untuknya. “sebentar lagi aku akan menikah. Nanti kamu datang ya. Teman-teman yang lain juga sudah aku undang. Kedatangan kamu sebagai sahabat ku sangat aku harapkan.” Begitulah isi sms itu. Sebuah rangkaian kata yang terasa seperti pedang bagi Rahmat.

“ plak..” sebuah pukulan pelan di bahu menyadarkan Rahmat.” Sedang melamun apa kau mat??” tanya Arief yang baru saja datang.

“ ah..tidak, tidak melamun apa-apa. Aku cuma menghitung jumlah dosa aku” elak Rahmat seraya bergurau. Arief cuma tersenyum mendengarnya. (lagi…)

Hari ini begitu panas. Terik sinar matahari yang begitu menyengat menyambut kedatangan Rahmat di kota Banjarmasin. Bersama ibunda tercinta, Rahmat berencana mendaftar masuk sebuah perguruan tinggi di Banjarmasin. Berangkat pagi-pagi dari kota Amuntai, Rahmat bersama sang ibu tiba di Banjarmasin dengan menaiki mobil taksi antar kota. Setelah tiba di terminal Pal 6 Banjarmasin, rahmat dan ibunya disambut layaknya seorang artis yang dikejar-kejar wartawan. Apa gerangan yang terjadi?, pikir mereka berdua. Ternyata segerombolan orang yang menyambut mereka menawarkan jasa ojek dan taksi dalam kota. Dengan tangkas tangan ibu meraih dan menarik tangan Rahmat menuju sebuah mobil taksi yang masih kosong. Tak terasa baju Rahmat basah kuyup diguyur peluh akibat udara yang begitu panas.

“ Kita akan kemana bu??” tanya Rahmat.

“ Kita akan ke Kayutangi, disana ada pendaftaran mahasiswa UNLAM dan juga…” (lagi…)