Resah rasanya hati jika melihat begitu banyak masalah di negeri yang elok ini. Sebenarnya hal ini sudah beberapa kali menjadi bahan tulisan dan diskusi saya bersama teman-teman. Tapi seakan sama dengan permasalahan yang tak pernah habis, tak pernah jenuh saya mengangkat tema ini. Terkesan umum memang karena begitu banyak permasalahan yang menghampiri bangsa kita, tapi menurut saya semua itu saling berkaitan, begitu kompleks dan “cukup memusingkan”. Misalnya saja di awal tahun 2009 ini kita dihadapkan dengan persiapan untuk pemilu yang disebut sebagai pesta demokrasi (semoga saja begitu). Belum lagi pemilu dilaksanakan suasana sudah memanas. Bahkan yang sempat menjadi pembicaraan hangat adalah ketika 2 calon presiden terkuat saling berbalas sindiran layaknya baturai pantun. Para pengamat politik pun tak mau ketinggalan mengeluarkan argumen mereka. Sementara itu rakyat hanya bisa menonton pagelaran sandiwara kehidupan ini. Dan tak ayal lagi mereka menjadi korban kaum intelek dengan segala janji gombalnya. (lagi…)
klise kehidupan
Februari 2, 2009
Awan gelap tak kunjung enyah dari negeri ini
Bumi menjadi saksi rakyat yang terzalimi
Mahasiswa terus teriak reformasi
Melawan penguasa yang tak berbudi
Persatuan kesatuan semakin keropos
Disana sini orang saling adu jotos
Kesejahteraan seakan hanya mitos
Lahirkan tangis di wajah anak yang polos (lagi…)
Desember 2, 2008
Tahukah anda siapa orang yang bertugas membersihkan jalanan di Banjarmasin? Jika anda biasa berjalan pada tengah malam, anda akan menemukan jawabannya. Ya, orang-orang yang bertugas membersihkan jalanan itu memang bertugas pada malam hari sekitar pukul 12 malam. Pada saat jalanan protokol sedang sepi-sepinya itu mereka bergelut dengan debu, sampah, dan kotoran dengan bertemankan sapu dan alat pembersih lainnya. Semua itu mereka lakukan karena tuntutan profesi dan juga tuntutan ekonomi tentunya. (lagi…)
November 15, 2008
Pada pagi sabtu (15/11/2008), sepulang dari rumah sakit aku iseng jalan-jalan lewat pasar sudimampir, sebuah pasar tua bersejarah di Banjarmasin. Sepasang mata ku kemudian melihat seorang wanita tua sedang mendorong gerobak. Gerobak itu tidak terlalu besar, tetapi cukup menyusahkan baginya yang memiliki perawakan kecil. Didalam gerobak itu setumpuk kerupuk yang dikemas sedemikian rupa siap untuk dijual. Memilukan, ya itulah kesan pertama yang timbul ketika melihat insan seperti dia harus bekerja seperti itu. Mimik wajahnya yang meringis dam memelas tapi penuh ketegaran membuat hati ‘bejat’ ini terasa tersayat. Bagaimana bisa? Pada saat wanita seumurnya yang lain sudah bisa santai menikmati hidup, menimang cucu sambil melihat anak-anaknya yang sudah memiliki penghidupan layak, dia masih bergelut dalam usaha duniawi demi menyambung nafas kehidupan. Sebait do’a seketika terucap disanubari semoga si wanita tua mendapat rezeki yang cukup hari ini. Ada satu hikmah yang dapat diambil oleh ku hingga hampir saja tertetes air mata karenanya. Kehidupan ini adalah perjuangan. Ketika kita mendapat sebuah cobaan air mata dan keluh kesah bukan lah solusi. Bagaimanapun kehidupan terus berlanjut dan dijalani. Sesakit apapun itu adalah terbaik bagi kita. Disamping kita selalu ada yang memperhatikan. Dia menyandang gelar Maha melihat, Maha pengasih dan Maha adil. Yakinlah segala hal yang kita terima di kehidupan ini akan menerima balasan yang adil dari-Nya. Inti dari semua itu adalah syukur. Ya syukur kita atas segala apa yang telah Dia beri dan kita terima. Jauh di dalam hati ini timbul sebuah tekad untuk lebih meresapi arti kehidupan bahwa kehidupan bukan bersenang-senang semata. Diluar sana masih banyak orang yang tidak sebaik nasib kita. Alangkah malunya diri ini jika nanti harus menghadap Yang Maha Kuasa. Semoga tetes air mata ini mampu membasahi kalbu kita yang kering dan gersang akibat kesombongan dan kecongkakan kita selama ini. Mari kita lebih peduli dengan sesama, saudara-saudara kita yang lainnya.
Bagaimana menurut anda?





