Indonesia Ku


Tak terasa sudah lama tak menyentuh blog ini. Jiwa terbuai akan kharisma facebook sehingga sempat membuat hati berpindah dari menulis di blog menjadi mencari jaringan via facebook. Kata orang itulah demam facebook. Ketika demamnya sudah mendingan, baru saya sadar. Sebenarnya ada banyak ide tulisan yang sempat mengendap di otak ini tapi hilang saja karena tak ditulis,,sangat disayangkan sekali. Tapi ya sudah lah saya ingin kembali menyapa sahabat bloger… (lagi…)

“ Siapa Tuhan selanjutnya? ”,begitulah petikan kata yang seminggu ini menggantung dipikiran saya. Hingga sebelum dan sesudah pemilu dilaksanakan belum juga terjawab pertanyaan itu. Apa akan ada tuhan edisi terbaru?? Ya ngga lah..ini cuma istilah yang dibuat-buat sebagai pengibaratan pemimpin di negeri ini. Jangan dilaporkan ke MUI ya..hehe. Tapi tentunya hal ini dibuat berdasarkan kenyataan bahwa pemimpin di negeri ini memiliki kekuasaan yang mampu mempengaruhi kehidupan masyarakat luas. Meski ini bukan fenomena baru karena sejak zaman dahulu memang yang namanya penguasa adalah penentu arah kehidupan rakyat yang dikuasainya. Walaupun sekarang dikenal istilag demokrasi dimana katanya rakyat memegang kekuasaan tertinggi tapi kenyataannya tetap saja sang pemimpin yang menjadi penguasa. (lagi…)

Pesta demokrasi telah dimulai. Masing-masing parpol silih berganti mengadakan kampanye. Jalan-jalan mulai ramai oleh pawai simpatisan parpol. Bermacam-macam cara dilakukan para parpol dalam menarik perhatian rakyat. Bagi parpol besar yang mempunyai dana yang besar pula biasanya tak segan untuk menggelar acara hiburan atau pembagian hadiah demi mendapatkan dukungan dari rakyat. Terkesan berfoya hura memang tapi setidaknya sekali ini saja menunjukan perhatian kepada rakyatnya, karena setelah itu kita tahu sendiri lah. (lagi…)

Resah rasanya hati jika melihat begitu banyak masalah di negeri yang elok ini. Sebenarnya hal ini sudah beberapa kali menjadi bahan tulisan dan diskusi saya bersama teman-teman. Tapi seakan sama dengan permasalahan yang tak pernah habis, tak pernah jenuh saya mengangkat tema ini. Terkesan umum memang karena begitu banyak permasalahan yang menghampiri bangsa kita, tapi menurut saya semua itu saling berkaitan, begitu kompleks dan “cukup memusingkan”. Misalnya saja di awal tahun 2009 ini kita dihadapkan dengan persiapan untuk pemilu yang disebut sebagai pesta demokrasi (semoga saja begitu). Belum lagi pemilu dilaksanakan suasana sudah memanas. Bahkan yang sempat menjadi pembicaraan hangat adalah ketika 2 calon presiden terkuat saling berbalas sindiran layaknya baturai pantun. Para pengamat politik pun tak mau ketinggalan mengeluarkan argumen mereka. Sementara itu rakyat hanya bisa menonton pagelaran sandiwara kehidupan ini. Dan tak ayal lagi mereka menjadi korban kaum intelek dengan segala janji gombalnya. (lagi…)

indah-wal-ae1

Ada satu fenomena yang membuat saya terkejut sekali ketika mendengar berita di televisi yang menyatakan bahwa ribuan hektar hutan di wilayah provinsi Kalimantan Selatan habis dibabat oknum tak bertanggung jawab. Permasalahan inilah yang diduga menjadi penyebab bencana banjir yang begitu meluas hampir di seluruh wilayah provinsi Kal-sel.

Sejauh pantauan saya selama melakukan PKL beberapa waktu yang lalu memang banyak terjadi penebangan ilegal yang dilakukan oleh perambah hutan baik itu penduduk setempat maupun pengusaha kayu yang “nakal”. Seperti ketika PKL ke Muara Hunge (Barabai), Loksado (Kandangan), dan Batulicin, saya banyak menemukan terjadinya penebangan hutan yang diduga tanpa izin ini. Kalau penebangan yang dilakukan masyarakat suku dayak sebenarnya lebih ditujukan sebagai membuka lahan untuk pertanian mereka. Itupun tak sembarangan mereka lakukan tetapi ada aturan yang masih mereka taati demi kelestarian alam. Lain halnya jika pengusaha kaya yang masuk hutan. Mereka potong habis kayu-kayu seperti jenis Ulin untuk kepentingan bisnis, padahal Ulin merupakan salah satu kayu yang dilindungi dan tak boleh sembarangan menebangnya. (lagi…)

Lagi-lagi tawuran. Ya itulah yang kembali terjadi dalam beberapa hari ini. Bentrok antara mahasiswa di Makassar dengan polisi serta perang terbuka ala bangsa romawi kuno antara sesama mahasiswa di Kupang. Khusus yang di Kupang sangat memprihatinkan karena menewaskan seorang mahasiswa Fakultas Keguruan, satu lagi calon sarjana muda kita hilang sia-sia.

Ditinjau dari pandangan antropologinya, hal ini bisa disebabkan terjadinya pendangkalan nilai moral dimasyarakat. Orang Makassar yang notabenenya orang bugis memiliki kultur yang keras. Pantang bagi mereka harga diri diinjak-injak orang lain. Ketika terjadi penangkapan salah satu mahasiswa oleh polisi, maka dianggap sudah menghina para mahasiswa sehingga memicu terjadinya bentrok antara mahasiswa dengan polisi. Padahal permasalahannya tidak semudah itu. Penafsiran akan harga diri dimasyarakat sudah berubah. Penyebabnya ada banyak, salah satunya adalah ekonomi.

Kembali terjadinya bentrok antara aparat dengan mahasiswa menunjukan bahwa adanya permasalahan yang begitu kompleks di masyarakat kita saat ini. Segala kebijakan aparat pemerintah kadang dianggap merugikan rakyat. Ketidakpuasan akan pemerintah memicu polemik didalam masyarakat yang berakibat merosotnya kepercayaan akan pemerintah yang ada. Rakyat yang merindukan datangnya ‘Ratu Adil’ yang dianggap bisa membawa mereka menuju kepada kesejahteraan. Ketika pemerintahnya berlaku ‘zalim’, maka akan melahirkan perlawanan yang bisa memperlemah persatuan dan kesatuan bangsa. Lantas kapankah hal ini akan berakhir? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing yang harus saling introspeksi diri.

Bagaimana menurut anda?

Pada sore kamis (30/10/2008) saya melihat berita di televisi tentang pembacaan vonis hukuman untuk Habieb Rizieq pemimpin FPI. Ketika majelis hakim menjatuhkan vonis penjara 18 bulan, kontan membuat pendukung Habieb Rizieq yang menunggu di luar mengamuk. Ribuan polisi yang disiagakan langsung mencoba meredam suasana yang ricuh, tapi malah menambah suasana menjadi kacau.

Peristiwa ini hanyalah salah satu bukti nyata budaya masyarakat kita yang suka ricuh. Ya,,mau bagaimana lagi karena itulah kenyataannya. Bangsa kita yang katanya memiliki kepribadian yang ramah sekarang hanya menjadi sebuah omong kosong belaka. Kita sudah kehilangan budaya saling menghargai antar sesama. Hal seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika masing-masing individu mampu menahan diri.

Kenapa segala permasalahan yang dihadapi harus diselesaikan dengan kekerasan?Pergi kemana budaya musyawarah mufakat kita? Mahasiswa yang katanya orang intelektual malah ikut-ikutan “ngamuk” dikampus seperti yang terjadi di Makassar. Belum lagi kericuhan berlatarbelakang agama juga kerap terjadi. Segala perbedaan yang berada di negeri majemuk ini sering menimbulkan gesekan-gesekan yang berujung kericuhan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika seakan hanya menjadi simbol belaka. Ironis bukan?

Alangkah baiknya jika semua masyarakat di negeri ini saling menghargai dan menghormati segala perbedaan yang ada. Perbedaan bukan halangan tapi kekayaan bangsa. Bagaimana menurut anda?