Tak terasa sudah lama tak menyentuh blog ini. Jiwa terbuai akan kharisma facebook sehingga sempat membuat hati berpindah dari menulis di blog menjadi mencari jaringan via facebook. Kata orang itulah demam facebook. Ketika demamnya sudah mendingan, baru saya sadar. Sebenarnya ada banyak ide tulisan yang sempat mengendap di otak ini tapi hilang saja karena tak ditulis,,sangat disayangkan sekali. Tapi ya sudah lah saya ingin kembali menyapa sahabat bloger… (lagi…)
Indonesia Ku
November 21, 2008
Lagi-lagi tawuran. Ya itulah yang kembali terjadi dalam beberapa hari ini. Bentrok antara mahasiswa di Makassar dengan polisi serta perang terbuka ala bangsa romawi kuno antara sesama mahasiswa di Kupang. Khusus yang di Kupang sangat memprihatinkan karena menewaskan seorang mahasiswa Fakultas Keguruan, satu lagi calon sarjana muda kita hilang sia-sia.
Ditinjau dari pandangan antropologinya, hal ini bisa disebabkan terjadinya pendangkalan nilai moral dimasyarakat. Orang Makassar yang notabenenya orang bugis memiliki kultur yang keras. Pantang bagi mereka harga diri diinjak-injak orang lain. Ketika terjadi penangkapan salah satu mahasiswa oleh polisi, maka dianggap sudah menghina para mahasiswa sehingga memicu terjadinya bentrok antara mahasiswa dengan polisi. Padahal permasalahannya tidak semudah itu. Penafsiran akan harga diri dimasyarakat sudah berubah. Penyebabnya ada banyak, salah satunya adalah ekonomi.
Kembali terjadinya bentrok antara aparat dengan mahasiswa menunjukan bahwa adanya permasalahan yang begitu kompleks di masyarakat kita saat ini. Segala kebijakan aparat pemerintah kadang dianggap merugikan rakyat. Ketidakpuasan akan pemerintah memicu polemik didalam masyarakat yang berakibat merosotnya kepercayaan akan pemerintah yang ada. Rakyat yang merindukan datangnya ‘Ratu Adil’ yang dianggap bisa membawa mereka menuju kepada kesejahteraan. Ketika pemerintahnya berlaku ‘zalim’, maka akan melahirkan perlawanan yang bisa memperlemah persatuan dan kesatuan bangsa. Lantas kapankah hal ini akan berakhir? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing yang harus saling introspeksi diri.
Bagaimana menurut anda?
Oktober 31, 2008
Pada sore kamis (30/10/2008) saya melihat berita di televisi tentang pembacaan vonis hukuman untuk Habieb Rizieq pemimpin FPI. Ketika majelis hakim menjatuhkan vonis penjara 18 bulan, kontan membuat pendukung Habieb Rizieq yang menunggu di luar mengamuk. Ribuan polisi yang disiagakan langsung mencoba meredam suasana yang ricuh, tapi malah menambah suasana menjadi kacau.
Peristiwa ini hanyalah salah satu bukti nyata budaya masyarakat kita yang suka ricuh. Ya,,mau bagaimana lagi karena itulah kenyataannya. Bangsa kita yang katanya memiliki kepribadian yang ramah sekarang hanya menjadi sebuah omong kosong belaka. Kita sudah kehilangan budaya saling menghargai antar sesama. Hal seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika masing-masing individu mampu menahan diri.
Kenapa segala permasalahan yang dihadapi harus diselesaikan dengan kekerasan?Pergi kemana budaya musyawarah mufakat kita? Mahasiswa yang katanya orang intelektual malah ikut-ikutan “ngamuk” dikampus seperti yang terjadi di Makassar. Belum lagi kericuhan berlatarbelakang agama juga kerap terjadi. Segala perbedaan yang berada di negeri majemuk ini sering menimbulkan gesekan-gesekan yang berujung kericuhan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika seakan hanya menjadi simbol belaka. Ironis bukan?
Alangkah baiknya jika semua masyarakat di negeri ini saling menghargai dan menghormati segala perbedaan yang ada. Perbedaan bukan halangan tapi kekayaan bangsa. Bagaimana menurut anda?






