Sepulang dari kota Tenggarong, malamnya kami disuguhi tarian adat khas suku dayak kenyah. Tarian pembuka dari mereka dilakukan oleh beberapa orang wanita dewasa yang jumlahnya belasan orang. Melakukan tarian dengan irama yang begitu lambat nan gemulai. Melakukan pergerakan memutari seluruh lamin seraya menghentakan kaki yang beriringan dengan musik yang dibawakan oleh kaum lelaki dayak kenyah.sungguh indah dan khas sekali. Tarian ini berlangsung sekitar 10 menit.

Kemudian kami disuguhi lagi tarian yang dinamakan Tari Persatuan. Tarian ini dibawakan oleh beberapa orang gadis remaja. Sesuai dengan nama tariannya, memang tari ini ditujukan sebagai lambing persatuan masyarakat dayak yang terbagi dalam beberapa etnis atau suku. Dalam tarian ini diceritakan adanya simbol burung enggang yang dipercaya masyarakat dayak sebagai pemersatu mereka. Burung enggang sendiri saat ini mulai mengalami kepunahan di pulau Kalimantan akibat hilangnya habitat mereka. Dibandingkan tarian pembuka tadi, tari persatuan ini dirasakan lebih mempunyai nilai filosofi. Dan tarian itu menjadi tari penutup bagi kami pada malam itu.

Paginya sebelum kami pulang ke Banjarmasin, kami kembali disuguhi sebuah tarian perpisahan sebagai ucapan terima kasih atas kedatangan kami. Tarian ini dibawakan seorang lelaki dewasa dari dayak kenyah. Tarian ini menggambarkan kebahagiaan seorang dayak kenyah atas kedatangan tamunya dan berharap bisa bertemu kembali di lain waktu. Dengan memakai busana khas dayak kenyah dan Mandau serta perisai, lelaki dayak kenyah itu menari dengan lincahnya. Tarian ini melengkapi kepuasan hati kami akan budaya suku dayak kenyah. Akhirnya kami pun harus kembali ke Banjarmasin.