Minggu (07/06/2009) kemarin, saya bersama teman-teman lainnya berangkat ke provinsi Kalimantan Timur, tepatnya ke kota Samarinda. Keberangkatan kami ini sehubungan dengan PKL ke daerah pemukiman warga Dayak Kenyah. Suatu hal yang unik mengingat asal suku dayak kenyah bukan di daerah Samarinda, tetapi di kawasan perbatasan Malaysia dengan Indonesia di Kalimantan bagian utara. Perjalanan ini tentunya menyita waktu yang tak sedikit. Kami harus menjalani perjalanan selama 24 jam penuh jika bertolak dari kota Banjarmasin. Berangkat pada pukul 7 pagi, kami baru tiba pada pukul 7 pagi keesokan harinya. Medan yang ditempuh pun tak semulus yang dikira karena harus melewati pegunungan yang menanjak dan jalan yang rusak. Sangat melelahkan sekali menjalani perjalanan tersebut. Untuk menuju ke kota Samarinda, sebelumnya kami harus menyeberang sungai Mahakam yang begitu luas dengan menggunakan kapal selama 1 jam. Dan ini menjadi pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di kota Samarinda.
Sesampainya di desa Pampang, tempat warga dayak kenyah bermukim, kami menginap di sebuah lamin adat (balai). Lamin Pemung Tawai, begitulah namanya, berukuran cukup besar hingga mampu menampung rombongan kami yang berjumlah sekitar 84 orang. Lamin ini biasa digunakan sebagai tempat musyawarah, kebaktian, dan pentas seni budaya. Begitu melihat lamin ini, pandangan mata kami langsung disuguhi lukisan-lukisan pada dinding-dinding lamin yang sarat pesan simbolik. Begitu pula ketika memasuki lamin, penuh dengan lambang-lambang yang mempunyai arti tersendiri. Ada lukisan burung, naga, manusia, dan masih banyak lainnya. Lamin ini dibangun dengan arsitektur khas dayak. Dengan ciri tiang yang dibuat ukiran-ukiran yang begitu khas.
Menurut penuturan tokoh adat setempat, dayak kenyah ini berasal dari wilayah perbatasan Malaysia. Mereka kemudian meninggalkan kampung halamannya dan diterima pemerintah provinsi Kalimantan Timur. Kemudian disediakan sebuah lahan khusus bagi komunitas warga dayak kenyah yakni di desa pampang sekitar 20 Km dari kota Samarinda. Pada kesempatan ini kami berkesempatan melihat secara langsung budaya dayak kenyah seperti tari-tarian dan cenderamata hasil karya mereka. Satu hal yang unik adalah telinga mereka yang “lewer” akibat memasang anting yang cukup banyak di telinga. Kami juga menyempatkan diri jalan-jalan ke museum di kota Tenggarong. Kota tenggarong memberikan kesan tersendiri di hati saya dan teman-teman lainnya karena keistimewaan kota ini. Bagaimana tarian-tarian khas dayak kenyah?apa yang membuat kota Tenggarong begitu istimewa? Hal ini akan saya ungkap pada tulisan berikutnya.
Bersambung…
Juni 14, 2009 at 6:05 am
Kaum Kenyah merupakan salah satu kaum besar orang asli (Bumiputera) yang mendiami di kawasan pedalaman daerah Baram dan Belaga di Sarawak, Malaysia. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kaum ini sila layari laman :
http://ms.wikipedia.org/wiki/Kenyah
Satu penulisan yang sangat menarik tentang pengalaman yang dilalui. pengalaman itu banyak memberi inspirasi buat kita menulis dan terus menulis.
Juni 15, 2009 at 11:39 am
wahhh mantap bener budaya suku dayak itu ya..jadi penasaran ke pulau kalimantan niyy
Juni 15, 2009 at 11:17 pm
Kunanti sambungannya deh mas
Juni 18, 2009 at 4:42 pm
[...] tentang perjalanan saya ke daerah kaltim. Bagi yang ketinggalan cerita sebelumnya bisa membaca disini. Mohon maaf baru sempat menulis karena sekarang lagi sibuk final test,,(halah..ada-ada saja alasan [...]
Juni 20, 2009 at 8:45 am
kalimantan benar-benar eksotis!
wuah! iri banget sama rizal.
untung pengalamannya tak sungkan-sungkan dibagi di sini.
lanjuuuuttt…
Agustus 24, 2009 at 10:43 am
Anda belum melihat semua, suku dayak meliputi beragam sub lagi. Susah untuk menjelaskan nya dalam bentuk tulisan seperti ini. Saat anda berkunjung ke kalimantan (timur khususnya) anda semua akan tau, bahwa keberagaman suku, terjalin luar biasa, dan tertata apik, walaupun tingkat modernisasi juga cukup mengganggu perkembangan culture2 lain di kal-tim, tengok sendiri dan anda akan percaya… dion, samarinda.
November 2, 2009 at 10:28 am
Mas Rizal..bravo, tulisannya bagus..dan fotonya bagus.. rupanya iko’ dapat sumber tulisan dari orang yang tepat, dan pada saat kunjungan rombongan iko’ saya tau, salam nih dari amai Penjau… kenalkan saya frans aso, saya kebetulan warga Pampang.
Untuk informasi tentang Pampang, boleh buka blog http://pampangsuniaso.wordpress.com