Lelah sekali rasanya tubuh ini. Sebuah kelelahan yang bukan tanpa alasan. Satu bulan ini bergelut dengan tugas-tugas kuliah. Sebelumnya harus mengikuti PKL ke daerah Hamayung (HSS). PKL kali ini dirasa agak sedikit berbeda dengan PKL-PKL sebelumnya. Jika PKL yang terdahulu kami ke perkampungan warga Dayak Meratus, tapi kali ini kami terjun ke sebuah perkampungan masyarakat Hamayung yang sebagian besar daerahnya adalah air (rawa). DSC02688Desa Hamayung terletak di kecamatan Daha Utara kabupaten Hulu Sungai Selatan. Perjalanan kami mulai pada hari Jum’at (24/4/2009). Sekitar pukul 4.30 sore mobil taksi bertolak dari Banjarmasin menuju wilayah kabupaten HSS. Kurang lebih ada 8 buah mobil yang kami sewa untuk PKL ini. Seperti biasa, jalanan kota Banjarmasin yang macet pada sore hari menjadi sedikit penghambat kami. Belum lagi saat melalui jalan raya yang disulap menjadi jalan tambang karena truk pengangkut batu bara yang numpang lewat. Memasuki kota Martapura kami disuguhi jajanan kue kelalapon khas Martapura yang dijual orang di pinggiran jalan. Sungguh nikmat rasanya menikmati kue ini dan saya juga kebetulan termasuk fans kue kelalapon. Perjalanan terus berlanjut. Ketika lepas maghrib kami baru memasuki daerah sungkai yang terkenal dengan jalanannya yang berlobang akibat truk batu bara yang berlalu lalang disana. Di pinggir jalan kami menyaksikan kerumunan orang, tampaknya telah terjadi kecelakaan. Hal seperti ini memang sering terjadi akibat rusaknya jalan dan padatnya volume kendaraan. Tak lama kemudian kami makan malam di kawasan Rantau. Setelah puas mengisi perut, perjalanan kami lanjutkan kembali. Baru pada pukul 10.00 kami tiba di desa Hamayung.
Sesampainya di desa Hamayung, kami disambut warga dan Pambakal (kepala desa) setempat. Kami pun diperkenankan menginap di 3 buah rumah warga yang sudah disiapkan sebelumnya. Mungkin karena daerah rDSC02737awa, malam itu suhunya sangat panas dan banyak nyamuk. Saya sendiri yang tak tahan dengan suhu sepanas itu tidur di pelataran rumah. Untuk sedikit mengusir nyamuk kami mencoba membakar sesuatu untuk menciptakan asap. Tapi semua itu sia-sia saja karena nyamuk rawa ini tetap saja melahap tubuh kami tanpa ampun.
Keesokan harinya kami mulai melakukan observasi ke lahan pertanian masyarakat setempat. Ternyata pertanian baru dimulai ketika musim kemarau disaat rawa mulai mengering. Apabila pada musim penghujan, lahan itu menjadi daerah rawa yang begitu dalam dan oleh penduduk setempat biasanya dijadikan tempat mencari ikan. Bahkan ada juga kawasan rawa yang tidak pernah kering meski di musim kemarau sekalipun. Rawa seperti ini dijadikan warga untuk memelihara kerbau rawa yang habitatnya memang di air rawa. Kerbau kalang atau kerbau rawa ini menjadi perhatian kami juga. Untuk menuju ke DSC02791peternakan kerbau rawa kami harus menaiki kapal kelotok selama 30 menit menuju ke tengah rawa. Bagi saya ini bukan hal baru lagi karena kampung halaman saya (Amuntai) juga daerah rawa. Tapi bagi teman-teman yang lain ini merupakan pengalaman tersendiri. “ Rawa ini seperti danau toba saja, begitu luas dan seakan tak bertepi “ kata seorang teman saya. “ seperti pernah ke danau toba saja “ pikir saya sambil tersenyum. Begitu sampai di peternakan kerbau rawa ini kami disambut oleh beberapa kerbau yang masih muda umurnya. Ada juga beberapa yang terlihat masih berenang di air rawa. Ya,,kerbau ini memang sangat pandai berenang di air. Di samping kalang (kandang) kerbau itu juga terdapat peternakan itik Alabio yang sangat terkenal. Hari ini sangat menyenangkan. Selain melakukan observasi seraya jalan-jalan ke peternakan kerbau rawa, kami juga disuguhi makanan iwak karing masak garih (ikan kering asin yang dimasak dengan menggunakan santan). Saya sangat suka masakan bersantan termasuk garih ini. Meski tak baik untuk kesehatan mengkonsumsi santan yang berlebihan tapi rasa yang menggugah selera seakan mengalahkan semua itu.
DSC02880Malam itu kami tidur cepat sekali karena kelelahan setelah seharian jalan-jalan. Esok hari kami sudah harus pulang ke Banjarmasin. Tapi sebelumnya kami menyempatkan diri ke Amuntai untuk berkunjung ke situs bersejarah, Candi Agung. Disini kami melakukan observasi tentang sejarah dari Candi Agung. Beberapa benda-benda bersejarah juga berhasil kami ambil fotonya. Ada banyak mitos yang berkembang dan dipercaya masyarakat mengenai Candi Agung ini. Untuk hal yang satu ini akan saya ceritakan di lain kesempatan karena mitos Candi Agung cukup panjang ceritanya. Untuk sedikit informasi tentang candi agung pernah saya tulis dalam artikel Asal Usul Sungai Malang.