Note: lama juga tak meneruskan novel ini. Keterbatasan ide dalam mengembangkan cerita yang sebenarnya merupakan kisah nyata ini menjadi kendala utama. Saran dan kritik dari pembaca sangat saya harapkan. Bagi yang ketinggalan cerita sebelumnya dapat membaca di JPC 1 dan JPC 2. Terima kasih.

Angin pagi itu sangat menyejukan. Sinar matahari yang masih tipis membelai hangat tubuh ini. Pagi itu Rahmat merasakan kembali suasana pagi yang asri di kampung halamannya, Amuntai. Duduk di teras depan sambil menikmati teh hangat, Rahmat asyik memperhatikan orang-orang yang mulai berlalu lalang di jalanan.
“Bagaimana tes kemarin??” tanya ibu mengagetkan Rahmat.
“euh..baik,baik-baik saja bu” jawab Rahmat.
“Apanya yang baik??” tanya ibunya lagi.
“ya tesnya lah..pokoknya Insya Allah lulus. Mohon do’anya ya bu..”.
“ do’a ibu selalu untuk mu nak..” jawab ibu seraya tersenyum. “ sana kamu makan dulu, dah ibu siapkan dari tadi lo makanan kesukaan kamu, pepuyu bakar kan..” Wah asyik..gumam Rahmat.
Lama tak berjumpa teman-teman SMA membuta Rahmat kangen. Hari itu rencananya dia ingin jalan-jalan ke rumah teman-temannya. Tapi dia merasa kurang enak badan. Mungkin akibat masih kelelahan. Akhirnya Rahmat cuma bisa istirahat saja di rumah. Tiba-tiba ada sebuah sms masuk. Sms itu dari Maria teman lesnya dulu.
“wah tumben Maria ngajak ketemuan, ada apa ya..” pikir Rahmat.
Penasaran membuat Rahmat memaksakan tubuhnya untuk keluar menuju rumah Maria. Sesampainya di rumah Maria sudah menunggu Maria,Lia, dan teman-teman satu kelas les dulu.
“ Hai mat..apa kabar??” tanya Maria.
“ Baik..sehat-sehat aja kok” jawab Rahmat berbohong.
“ apa kamu sudah bertemu Heny??” tanya Maria lagi.
Ah sudah kuduga pasti menyinggung masalah Heny..gumam Rahmat. Heny adalah gadis pujaan Rahmat. Mereka berdua beda sekolah tapi biasa bertemu di tempat les. Tapi permasalahannya adalah heny sudah menjadi milik orang lain. Inilah yang membuat Rahmat tak bisa mengungkapkan perasaannya.
“ woy..ditanya kok malah melamun” kata Maria mengagetkan.
“eh..belum nih,,memangnya kenapa??” tanya Rahmat balik.
“ yah..kali aja kamu mau bertemu. Memangnya kamu ngga’ kangen sama dia” kata Maria.
“kangen juga sih, tapi mau bagaimana lagi” jawab Rahmat pasrah.
“kok kamu begitu sih. Ya paling tidak kamu terus terang saja kepada Heny walaupun dia sudah ada yang punya” cerocos Lia tiba-tiba.
Rahmat hanya bisa terdiam. Batinnya berkecamuk. Di satu sisi dia ingin menyampaikan isi hatinya. Tapi di sisi lain dia tak ingin menghancurkan hubungan orang lain. Saat ini saja Heny telah mulai jaga jarak dengannya.
“ entahlah. Aku bingung.” Kata Rahmat.
“ kami sebenarnya kasihan dengan kau..tapi kami tak bisa berbuat apa-apa. Heny itu keras orangnya” kata Maria.
“ terima kasih atas perhatian kalian. Aku bisa mengatasi semuanya kok” kata Rahmat.
Tak berapa lama Rahmat pamit pulang. Sepanjang jalan dia merasakan ada sesuatu yang menyesakan dadanya. Hal yang biasa dia rasakan apabila sedang kalut.
Bersambung…