Pesta demokrasi telah dimulai. Masing-masing parpol silih berganti mengadakan kampanye. Jalan-jalan mulai ramai oleh pawai simpatisan parpol. Bermacam-macam cara dilakukan para parpol dalam menarik perhatian rakyat. Bagi parpol besar yang mempunyai dana yang besar pula biasanya tak segan untuk menggelar acara hiburan atau pembagian hadiah demi mendapatkan dukungan dari rakyat. Terkesan berfoya hura memang tapi setidaknya sekali ini saja menunjukan perhatian kepada rakyatnya, karena setelah itu kita tahu sendiri lah.

Tapi hendaknya pandangan mata kita janganlah pula terfokus pada kampanye para parpol tersebut. Jika kita lebih peka maka akan terdengar jerit tangis di tengah keramaian negeri ini. Ya, masih ada saja tangisan rakyat yang terdengar. Baru-baru ini saya melihat sebuah berita di televisi yang cukup memilukan hati. Para pengrajin menarik kembali bangku dan meja sekolah yang sedang dipakai untuk belajar. Penyebabnya pemerintah belum melunasi pembayaran pembuatan bangku dan meja tersebut. Siswa yang sedang belajar, dengan gigih seraya menangis mencoba mempertahankan bangku dan meja sekolah mereka. Mereka tak tahu apa yang terjadi. Yang mereka inginkan cuma belajar dengan nyaman. Sungguh ironis sekali melihat hal seperti ini masih saja terjadi. Apapun alasannya hal ini menunjukan ketidakmampuan pemerintah kita. Ini salah satu masalah di pendidikan kita. Sebuah permasalahan yang kadang tak terperhatikan adalah masih adanya anak yang ikut kampanye.

Masih banyaknya masalah membuat tangisan rakyat seakan tak berbatas. Ketika pesta demokrasi ini berakhir dan pemimpin yang terpilih telah duduk di kursi yang diinginkannya, apakah tangisan rakyat akan berakhir? Saya pikir kita semua berharap akan ada perubahan ke arah yang lebih baik. Karena sudah terlalu banyak tetes air mata yang membasahi bumi ini. Dan kepada siapa pun yang nantinya memimpin, saya harap mereka lebih memperhatikan tangisan rakyat. Tangisan tak selalu berarti kesedihan, tapi juga bisa berarti harapan.