Tersenyum. Ya itu lah yang tergambar di muka saya setelah memposting tulisan sebelumnya di blog ini, intelektualitas vs moralitas. Ada banyak kontroversi yang terjadi dan ini sesuai harapan saya. Sebelum dan sesudah tulisan itu saya posting sering terjadi perdebatan saya dengan teman-teman. Inilah asyiknya, berdebat yang merupakan kesukaan saya. Tak perduli siapa yang akhirnya menang, kalah, atau seri. Bagi saya ada kepuasan tersendiri untuk itu. Yang penting adalah kita harus bisa menghargai perbedaan yang ada disekitar kita.
Bicara tentang menghargai perbedaan tidaklah semudah yang diteorikan. Ada banyak pengalaman yang saya temui bahwa tak semua orang mampu melakukan itu. Kebanyakan orang masih dikuasai keegoisan yang membuat mereka merasa benar dan paling hebat, sehingga dalam kehidupannya selalu tak mau kalah. Kalau sudah begini akan terjadi gesekan-gesekan sosial yang bisa berakibat perselisihan. Inilah yang sering terjadi saat ini hanya saja terkadang kita tak menyadarinya karena sifat kita yang lebih mementingkan kepentingan sendiri.
Alangkah baiknya jika kita sama-sama mengesampingkan ego kita dalam hidup ini agar hidup terasa lebih indah karena dengan perbedaan hidup menjadi lebih berwarna. Kalau kita tak bisa menghargai perbedaan, maka hanya akan melahirkan masalah-masalah selanjutnya. Apapun perbedaan itu selama tidak melenceng dari norma-norma yang ada kita harus bisa menghargainya bukan malah saling menghancurkan.
Maret 15, 2009 at 2:12 pm
He he mulai berfilsafat ya
Maret 18, 2009 at 3:00 pm
Kirain dah ada yang baru
Maret 19, 2009 at 1:30 am
jadi rizal senang berdebat, ya? kenapa tidak kita sebut “berdiskusi” saja daripada “berdebat”?
perbedaan itu lumrah adanya, karena tak ada manusia yang terlahir serupa. kekuasaan Allah menjadikan sidik jari dan sidik DNA setiap manusia tiada dua. apalagi dalam hal pemikiran dan isi kepala. justru perbedaan itu memperkaya. coba kalau dulu galileo sepakat dengan gereja bahwa bumilah pusat jagad raya, maka teori heliosentris copernicus tak kan pernah dibuktikan.
Maret 19, 2009 at 10:40 am
ya…saya setuju. Jika ego menjadi ukuran kemenangan atau kekalahan seseorang, maka tiada jalan penyelesaian akan muncul. Oleh yang demikian, tunjangnya adalah hikmah dan rahmah. Saling menerima pendapat orang lain merupakan kebijaksanaan tanpa memikirkan betul atau salah. Yang penting setelah berlaku perkongsian ilmu tersebut, harus dipertimbangkan kebenaran dan kepalsuannya. Insya Allah akan beroleh keputusan yang menyenangkan. Namun saya akui berdebat dalam sesuatu isu akan mendatangkan kepuasan dalam mencena minda yang sihat. Syabas. Anda seorang yang hebat.
Maret 22, 2009 at 8:12 am
Lambaaaaaaaaaat