Ada suatu ucapan seorang dosen saya yang menjadi pemikiran saya. ” setelah keluar dari kampus ini setidaknya kalian menjadi setengah manusia” kata dosen saya itu. Apa sebenarnya maksud dari ucapan dosen saya ini? setelah saya ikuti pembicaraan beliau, saya dapat memahami apa yang beliau katakan tersebut. Inti dari ucapan beliau itu adalah agar kita yang mengaku sebagai manusia ini sadar apakah memang benar telah menjadi manusia. Ada banyak sekali yang mengaku manusia tapi kelakuannya tak mencerminkan seperti itu. Mau bukti? tengoklah ke sekitar kita. Ada perkelahian, kerusuhan, hujat menghujat, sikut menyikut dan saling menjatuhkan layaknya hewan.Tapi kita mempunyai akal dan hewan tidak, berarti kita tetap manusia dong. Apa bedanya jika akal tak berfungsi. Akal hanya sebagai pelengkap agar tak dibilang cacat tapi tak pernah digunakan, hasilnya tetap nihil.

Lantas bagaimana para pejabat kita yang tentunya memiliki tingkat kepintaran atau intelektualitas di atas rata-rata, apakah mereka manusia atau hewan? jawabannya apakah mereka menggunakan akal dan hati nurani mereka dalam hidup. Kalau mereka menggunakannya sebagaimana mestinya berarti mereka manusia. Kalau tidak? ya masih hewan lah..Ada yang bilang manusia adalah hewan yang berpikir. Terkesan ekstrim tapi kita harus menghargai pendapat orang tentang ini. Intinya menurut saya intelektualitas seseorang tidak akan berguna jika tak dibarengi dengan moral yang ada dalam dirinya. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Manusia memiliki moral, peradaban yang tinggi dan santun. Bukan dengan kebengisan dan keliaran ala hewani. Ada satu teman saya yang bertanya ” mana baiknya aku yang jarang shalat tapi masih beradab dengan sesama dengan orang yang selalu shalat dan rajin ibadahnya tapi kelakuannya tidak beradab dengan sesama?”. Pertanyaan yang cukup aneh tapi menarik perhatian saya sehingga cukup berpikir keras menjawabnya. Akhirnya pertanyaan itu saya jawab begini ” Moral manusia ada dua macam yaitu moral terhadap Tuhannya dan moral terhadap sesama manusia. Moral terhadap Tuhan adalah urusan masing suatu individu dengan sang pencipta-Nya tanpa bisa dicampuri pihak lain, sementara moral terhadap sesama manusia merupakan suatu cakupan yang luas meliputi diri kita dan orang di sekitar kita. Meski begitu kedua macam moral ini harus berjalan selaras daan seiringan. Misalnya tatkala kita shalat, bukan cuma mulut komat-kamit membaca ayat-ayat Al-Qur’an tapi juga penghayatan yang mendalam tentang arti shalat tersebut sehingga dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan agama menjadi salah satu faktor pembentukan moralitas manusia.

Begitulah dalam hidup ini ita tak dapat hanya mengandalkan intelektualiatas saja tapi ada yang lebih penting lagi yaitu moral. Seorang guru saya pernah memberikan nasehat jika ingin maju dan berhasil dalam hidup ini bukan dengan kepintaran dalam hal ilmu pengetahuan tapi dengan kepintaran dalam bergaul dengan sesama manusia di kehidupan. Pintar ilmu dapat diperoleh dengan rajin membaca dan belajar tapi kepintaran moral harus memerlukan proses yang panjang dan dibentuk semenjak usia dini. Karena itulah saya tak pernah suka jika ada orang yang membanding-bandingkan kepintarannya dengan orang lain. Ketika memperoleh IP tinggi senang bukan kepalang merasa diri lebih baik dari orang lain. Tatkala IP jeblok, frustasi dan stres. Pondasi moralnya tak mampu menenangkan dirinya, dan apabila runtuh maka bunuh diri yang sekarang lagi “tren” menjadi pilihan utama. Sungguh kasihan. Tapi bukan berarti intelektualitas menjadi hal yang tak penting juga. Alangkah baiknya jika intelektualitas seseorang dibarengi dengan moral yang baik juga.