Rahmat hanya bisa tertegun. Terasa ada yang mengganjal di kerongkongannya. Pikirannya kosong, tubuhnya kaku dan tak terasa terhenti aliran darahnya untuk beberapa saat. Semua itu terjadi ketika dia membaca sebuah sms yang dikirimkan Yuli untuknya. “sebentar lagi aku akan menikah. Nanti kamu datang ya. Teman-teman yang lain juga sudah aku undang. Kedatangan kamu sebagai sahabat ku sangat aku harapkan.” Begitulah isi sms itu. Sebuah rangkaian kata yang terasa seperti pedang bagi Rahmat.
“ plak..” sebuah pukulan pelan di bahu menyadarkan Rahmat.” Sedang melamun apa kau mat??” tanya Arief yang baru saja datang.
“ ah..tidak, tidak melamun apa-apa. Aku cuma menghitung jumlah dosa aku” elak Rahmat seraya bergurau. Arief cuma tersenyum mendengarnya.
Malam itu Rahmat tak bisa tidur nyenyak. Pikirannya menerawang ke dunia lain. Sayup-sayup terdengar suara tiang listrik yang dipukul belasan kali. “ sudah pukul 12 malam” gumam Rahmat. Disampingnya, Arief sudah tertidur pulas. “ Aku harus mampu mengubur perasaan ini dalam-dalam. Aku tak mencintainya. Dia sahabatku dan akan terus menjadi sahabat.” Rahmat berusaha bertarung dengan dirinya sendiri.
Tak terasa waktu 2 minggu begitu cepat berlalu. Rahmat sangat menikmati kehidupan perkotaan Banjarmasin. “Benar kata orang. Asal ada uang, hidup dimanapun akan bahagia.” pikir Rahmat. Dua hari menjelang tes, Rahmat kedatangan sahabat karibnya, Helmi. Helmi adalah salah satu dari tiga serangkai persahabatan Rahmat dan Erik yang meneruskan kuliah ke Surabaya. Mereka bersahabat sejak duduk di SMA. Tapi, kedatangan Helmi menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Rahmat. Helmi merupakan anak yang pintar bahkan paling pintar diantara mereka. Kemampuannya dalam berbahasa Inggris tak perlu diragukan lagi. Sangat mengagumkan melihat talenta anak danau seperti dia. Tapi Helmi bukanlah anak yang berasal dari keluarga mampu. Helmi terlahir di Danau Panggang, sebuah daerah rawa yang kebanyakan penduduknya bermata pencaharian sebagai penangkap ikan atau beternak itik. Rahmat khawatir Helmi tak mampu bertahan di Banjarmasin.
“ senang sekali aku bisa melihat kau lagi. Tapi bukankah dulu kau bilang tak akan kuliah di Banjarmasin karena tak ada biaya. Apa sekarang kau sudah punya banyak uang ??” tanya Rahmat.
“ Sebenarnya aku kesini dengan modal nekat. Aku dipinjami uang oleh pamanku untuk mendaftar. Aku ingin sekali kuliah seperti kau dan Erik. Aku ingin sukses.” Kata Helmi.
Sebuah ucapan yang begitu menggetarkan hati Rahmat. “Sungguh besar sekali keinginan untuk kuliah sahabat ku ini. Aku harus membantunya semampu ku” gumam Rahmat. Kemudian Rahmat mencarikan sebuah kos yang murah tapi layak. 25 ribu untuk 2 hari. Ya, itu lah sebuah tarif yang Rahmat dapatkan dan Helmi pun menginap di kos itu. “Aku masih punya sedikit uang untuk membayar kos ini. Tak perlu lah kau membayarkan untuk ku.” Kata Helmi seraya tersenyum. Rahmat hanya bisa terdiam. Begitulah sifat Helmi. Dia tak pernah mau menyusahkan orang lain. Selagi masih mampu, lakukan sendiri.
Pada hari pertama tes, Rahmat dan Helmi pergi bersama. Meski begitu mereka tak satu tempat tesnya. Sesampainya di tempat tes, Rahmat sempat kebingungan karena banyaknya orang yang datang. Akhirnya dia berhasil menemukan ruang dan kursi yang bertuliskan nomor pesertanya. Disampingnya ternyata duduk seorang gadis cantik dan begitu modis. “ wah..sepertinya waktu akan terasa cepat berlalu nih..” pikir Rahmat. Rahmat pun berkenalan dengan gadis cantik itu. Selly namanya. Sentuhan tangannya begitu lembut ketika saling berjabat tangan. Dengan diiringi senyuman yang manis dan sorot mata yang menggoda membuat hati lelaki manapun akan luluh karenanya. “ Ya Tuhan..kuatkan iman ku.” Hati Rahmat terasa berdegup kencang dibuatnya. “ Aduh..aku nervouse abis nih..” kata Selly.”susah ngga yah soal tesnya, aku takut ngga lulus nih”. Melihat mimik wajahnya yang memelas membuat hati Rahmat terasa ambruk. “Kamu tenang aja..nanti aku bantu deh.” Rahmat seraya menghibur. Selly pun tersenyum manis. Ah indahnya.
Akhirnya sepanjang tes, Rahmat terus saja membantu Selly hingga selesai menjawab semua soal. Kejadian yang serupa terjadi lagi keesokan harinya. Hal ini diceritakan Rahmat kepada Helmi.”Mau-maunya saja kau membantu gadis itu. Apa kau tak curiga dia hanya memanfaatkan kau” kata Helmi. Rahmat hanya tersenyum. Baginya tak penting semua itu. “kau tahu sendiri kan aku ini lemah terhadap perempuan. Melihat perempuan menangis saja aku sudah salah tingkah apalagi kalau dirayunya” bela Rahmat. “Terserah kau sajalah” kata Helmi seraya berjalan menjauh.
Hari itu juga Rahmat dan Helmi pulang ke Amuntai. Sambil menunggu mobil taksi berangkat mereka berbincang-bincang tentang Erik, sahabat mereka. “Aku sangat sedih tak bisa mengantarkan dia hingga bandara karena aku tak tau harus kemana menuju jalannya. Aku masih buta akan wilayah Banjarmasin ini. Padahal dia sempat menelepon aku untuk sekedar mengucap kata perpisahan.” kata Rahmat. “Kemarin saat terakhir dia di Amuntai, pagi-pagi sekali aku ke rumahnya tapi ternyata aku sudah terlambat. Dia sudah berangkat beserta keluarganya. Aku sempat dibelikan handphone olehnya. Padahal aku sudah berusaha menolak tapi katanya ini juga hadiah dari ibunya. Jadi aku ngga bisa menolak lagi.” Kata Helmi.
“ ah sobat..kami merindukanmu..kami harap kita bisa berkumpul kembali. Aku masih ingat janji kita untuk itu.” gumam Rahmat.
Bersambung…
Februari 22, 2009 at 10:52 am
hmm… intrik percintaan.
cinta baru bisa menghilangkan bayang-bayang yuli di hati rahmat nih nampaknya.
*** Rizal: yupz,, sepertinya sih begitu, tapi ikuti aja lanjutan ceritanya…
Februari 24, 2009 at 12:50 am
Suit…suit…..jejak pencari cinta atau jejaka pencari cinta…haaaa…haaaa…atau jgn2 sdh duda…kaaaaaaaabuuuuur…
*** Rizal: jejaka pencari cinta..??ada-ada saja..hehe ~enak aja main kabur~
Maret 1, 2009 at 6:34 pm
waahhh… seru juga neh, “Jejak Pencari Cinta”
kalo aku ngikut ninggalin jejaknya aja neh..hehe
*** Rizal: wah nant6i malah kebanyakan jejak jadi tersesat..huehehe…:)
Maret 4, 2009 at 3:48 pm
sayang jika tidak dikumpulkan menjadi sebentuk buku! tulisan kamu enak dibaca!
*** Rizal: maunya sih begitu (jadi buku) tapi masih perlu banyak belajar lagi..
Maret 4, 2009 at 11:20 pm
Ingat janji kita untuk … menulis, dan terus menulis
*** Rizal: Siap pak..!!!
April 17, 2009 at 7:27 am
[...] pembaca sangat saya harapkan. Bagi yang ketinggalan cerita sebelumnya dapat membaca di JPC 1 dan JPC 2. Terima [...]