Hari ini begitu panas. Terik sinar matahari yang begitu menyengat menyambut kedatangan Rahmat di kota Banjarmasin. Bersama ibunda tercinta, Rahmat berencana mendaftar masuk sebuah perguruan tinggi di Banjarmasin. Berangkat pagi-pagi dari kota Amuntai, Rahmat bersama sang ibu tiba di Banjarmasin dengan menaiki mobil taksi antar kota. Setelah tiba di terminal Pal 6 Banjarmasin, rahmat dan ibunya disambut layaknya seorang artis yang dikejar-kejar wartawan. Apa gerangan yang terjadi?, pikir mereka berdua. Ternyata segerombolan orang yang menyambut mereka menawarkan jasa ojek dan taksi dalam kota. Dengan tangkas tangan ibu meraih dan menarik tangan Rahmat menuju sebuah mobil taksi yang masih kosong. Tak terasa baju Rahmat basah kuyup diguyur peluh akibat udara yang begitu panas.
“ Kita akan kemana bu??” tanya Rahmat.
“ Kita akan ke Kayutangi, disana ada pendaftaran mahasiswa UNLAM dan juga…”
Air dingin, kue, kacang…,, tiba-tiba saja ada suara yang memotong obrolan rahmat dan ibunya. Ternyata seorang wanita yang menjual dagangannya. Rahmat langsung saja menyambar sebotol air mineral yang terlihat menggoda di suasana sepanas ini. Beberapa detik saja botol air mineral itu sudah kosong melompong. Ibunya hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya yang satu ini seraya membayar kepada pedagang asongan tadi. Satu jam lamanya rahmat dan ibunya berada di dalam mobil taksi tapi sang sopir belum juga terlihat akan segera berangkat karena menunggu sampai taksi penuh. Akhirnya beberapa saat kemudian mobil taksi sudah mulai berangkat meninggalkan terminal. Di sepanjang perjalanan, rahmat hanya bisa terpana melihat pemandangan kota Banjarmasin. Gedung-gedung yang besar, toko-toko dan rumah yang begitu padat, serta jalanan yang begitu ramai dan terkadang terjadi kemacetan. Sebelumnya ini tak pernah dilihat di kota asalnya Amuntai. Rahmat memang jarang sekali pergi ke kota besar seperti Banjarmasin. Ibunya yang dari tadi memperhatikan tingkah laku rahmat hanya tersenyum saja. Setelah itu ibu menjelaskan nama-nama daerah dan jalan yang sedang mereka lalui. Rahmat hanya bisa melongo mendengarkan penjelasan ibunya.
“ Nanti kamu akan tahu dan hafal sendiri daerah disini kalau sudah kuliah” kata sang ibu.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir 30 menit, rahmat dan ibunya turun tepat di depan UNLAM. Setelah membayar ongkos taksi, mereka segera menuju tempat pendaftaran mahasiswa baru. Setelah menunggu sekian lama karena antrian yang cukup panjang, rahmat berhasil membeli formulir pendaftaran.
“ Sekarang kita ke cendana dulu makan siang setelah itu mencari kos untuk kamu” kata ibu.
Rahmat menurut saja. Dari tadi dia sudah letih menahan rasa lapar. Ketika memasuki kawasan cendana yang letaknya tepat diseberang UNLAM, banyak sekali warung yang menyediakan beraneka ragam masakan. Rahmat dan ibunya lantas memilih sebuah warung dan makan siang disana. Setelah puas makan siang, mereka berdua menuju sebuah rumah yang menyediakan kos-kosan. Ternyata ibu sudah dapat kos yang tepat untuk rahmat dari seorang temannya. Setelah melihat-lihat kondisi kos, rahmat setuju untuk kos disini. Rencananya rahmat hanya 2 minggu saja kos karena setelah ujian tes masuk mahasiswa baru rahmat harus kembali lagi ke Amuntai. Waktu selama 2 minggu diisi rahmat dengan mengikuti les untuk membantu dia dalam menghadapi tes nanti.
Sore harinya ibu harus segera pulang ke Amuntai. Rahmat terasa sedih ketika melepas kepergian ibunya. Dia belum terbiasa hidup jauh dari orang tuanya. Tapi hari itu dia mendapat seorang sahabat baru yang menjadi teman satu kamar kos. Arief, begitulah dia biasa disapa. Mengobrol dengan arief yang ternyata sudah 3 tahun kuliah sangatlah menyenangkan. Dari arief, rahmat bisa mendapatkan banyak informasi tentang Banjarmasin dan pengalaman dalam menghadapi tes masuk mahasiswa baru nanti.
Keesokan harinya, rahmat merasa rindu akan teman-temannya selama di SMA dulu. “ Apakah mereka juga mendaftar masuk kuliah juga seperti aku?” gumam rahmat. Pikirannya seraya teringat sosok seorang perempuan yang berparas cantik dan ayik kalau diajak ngobrol. “ Yuli..ah aku kangen sama dia”. Yuli adalah teman sekelas rahmat sewaktu duduk di kelas 3 SMA. Bersama Erik, sahabat karibnya, rahmat sering bercanda dan menjahili Yuli. Tangan rahmat pun spontan mengambil sesuatu di kantong celananya, sebuah handphone baru yang dibelikan ibu ketika lulus ujian nasional. Dikirimnya sebuah pesan via sms yang ditujukan kepada Yuli. Setelah sekian lama saling lempar pesan, sebuah perasaan membuncah di hati rahmat. “ kenapa aku begitu rindu ya sama yuli? Apa aku jatuh cinta dengan dia”. Rahmat bingung dengan perasaannya. Sebelumnya perasaan yang sama pernah muncul ketika dia masih di SMA dulu. Tapi rahmat tak mau berterus terang karena Yuli sudah dianggap sebagai teman bahkan sahabat olehnya.“ Yuli memang cantik dan asyik orangnya”, rahmat tersenyum-senyum sendiri. Sebuah tekad ditancapkan di sanubari untuk berterus terang akan perasaannya kepada Yuli. Tapi sebelum itu terjadi sebuah hal mengejutkan terjadi di hari itu.
Bersambung…
Februari 17, 2009 at 5:04 pm
wow! menulis fiksi, mengapa tidak?
prolognya menarik, mengisahkan seorang anak amuntai yang baru pertama kali berkunjung ke kota besar seperti banjarmasin. satu yang kurang, sebaiknya diinformasikan juga bagaimana ibu rahmat mengenal kota banjarmasin dengan sangat baik. umumnya pembaca mengharapkan seorang ibu rumah tangga tidak akan mengenal sebuah tempat sebaik itu, karena itu biasanya karakter laki-laki (ayah).
satu lagi, tulisan nama rahmat kerap dengan awalan huruf kecil. disengaja? hehe.
*** Rizal: makasih mbak atas kritik dan sarannya..tentunya akan sangat membantu saya…
Februari 18, 2009 at 4:39 am
Setuju pak!
*** Rizal: wah ada artis masuk blog aku..!!!! **beneran ga’ ya ???**
Februari 19, 2009 at 12:23 am
Wuaw kemajuan dahsyat nich
*** Rizal: makasih pak…
April 17, 2009 at 7:27 am
[...] kritik dari pembaca sangat saya harapkan. Bagi yang ketinggalan cerita sebelumnya dapat membaca di JPC 1 dan JPC 2. Terima [...]